Friday, September 22, 2017

Sistem Pratekan Pretensioning (Sistem Penegangan-Awal)



·         Sistem Pratekan Pretensioning (Sistem Penegangan-Awal)
Dalam sistem pretensioning, tendon baja kekuatan tinggi ditarik diantara dua
ujung abutmen (juga disebut bulkhead ) sebelum pengecoran beton. Abutmen-abutmen dikekang pada ujung-ujung landasan prategang.Pada saat beton mencapai kekuatan yang diinginkan untuk penegangan, tendon-tendon diputus dari abutmen-abutmennya. Gaya pratekan ditransfer ke beton dari tendon,berdasarkan ikatan/rekatan diantara beton dan tendon. Selama transfer prategang, elemen mengalami perpendekkan elastik. Apabila tendon diaplikasikan secara eksentris, elemen sangat munngkin mengalami lenturan dan defleksi .
Tahap - tahap yang berbeda dari pelaksanaan pretensioning diringkaskan sbb.:
1. Pengangkuran tendon pada ujung-ujung abutmen
2. Penempatan jack-ack (dongkrak)
3. Aplikasi tarikan pada tendon
4. Pencetakan beton
5. Memutus tendon
Selama pemutusan tendon-tendon, prategang ditransfer pada beton melalui perpendekkan elastik dan pelengkungan elemen. Tahap-tahap tersebut ditunjukkan secara skematik dalam Gambar. 2.3. Panjang penegangan dan alas acuan bervariasi dari sekitar 80 feet (25 m) sampai 650 feet (200 m), bergantung pada produk yang diperlukan. Untaian kabel yang ditegangkan secara individu biasanya dilepaskan dengan api-pemotong atau sawing. Urutan pemotongan harus sedemikian rupa agar tegangan-tegangan tetap sesimetris mungkin. Pemotongan harus dilakukan secara bertahap dan sedekat mungkin dengan elemen untuk meminimalkan jumlah energi yang ditransfer secara dinamik melalui tegangan ikat pada pelepasan.



·         Keuntungan dan Kerugian Sistem Pretensioning
Keuntungan relatif sistem pretensioning dibandingkan dengan sistem post-tensioning adalah Sistem pretensioning cocok untuk elemen pracetak yang diproduksi dalam jumlah besar.
·         Kerugian relatif sistem pretensioning adalah,
1.       Suatu alas penegangan diperlukan untuk pelaksanaan pretensioning;
2.       Terdapat suatu masa tunggu di alas penegangan, sebelum beton mencapai cukup kekuatan;
3.      Harus ada ikatan/rekatan yang baik diantara beton dan baja sepanjang panjang transmisi
 


Sisi samping acuan (mold) terlihat di latarbelakang ke arahkanan. Untaian kabel prategang ditahan pada pusat balok oleh katrol-katrol baja yang akan tertinggal dalam beton sesudah pengecoran. Alas berukuran
cukup panjang sehingga beberapa gelagar dapat dicetak dari ujung ke ujung, dengan
untaian kabel ditarik keatas dan ke bawah sesuai keperluan. Baja tulanganlunak
digunakan sebagai tulangan geser (sengkang). Sisi-sisi atas sengkang akan merekat pada lapisan penutup yang dicetak di tempat. Puntiran vertikal kabel prategang dekat ujung gelagar akan berfungsi sebagai putaran pengangkat.
·         Perangkat Sistem Pretensioning
Beberapa perangkat penting dalam sistem pretensioning adalah sbb.:
1.      Alas / landasan prategangan
2.      Abutmen ujung
3.       Acuan / mold
4.       Jack (dongkrak)
5.      Perangkat pengangkuran
6.       Perangkat pelentuk kabel

Thursday, April 27, 2017

MIKROTIK OS




SOAL :
1. Mencari fungsi microtik os
2. Mencari studi kasus microtik os

JAWAB :
1.   > Pengaturan koneksi internet dapat dilakukan secara terpusat dan memudahkan untuk pengelolaannya.

     > Konfigurasi LAN dapat dilakukan dengan hanya mengandalkan PC Mikrotik Router OS dengan hardware requirements yang sangat rendah.
    
     >Blocking situs-situs terlarang dengan menggunakan proxy di mikrotik.
Pembuatan PPPoE Server.
    
     >Billing Hotspot.
Memisahkan bandwith traffic internasional dan local, dan lainnya.


2.   Kantor PT. Jaya Sentosa Memiliki 4 lantai, dan jumlah seluruh pemakai internet di kantor tersebut ada50 User sudah termasuk PC & Laptop. Layanan internet menggunakan Modem GSM Up To 10 Mbps. Anda sebagai teknisi jaringan ditugaskan oleh owner untuk setting jaringan menggunakan mikrotikmulai membuat gateway sampai Bandwidth Management.


Petunjuk
 1. Mikrotik Menggunakan RB95ui-2hnd G
 2. Buat 4 buah gateway untuk masing-masing interface (3gateway mengarah ke jaringan LAN dan satu  gateway mengarah ke jaringan Wifi )
      · Gateway lantai 1 : 192.168.1.1/24 Jaringan LAN
      · Gateway lantai 2 : 192.168.2.1/24 jaringan LAN
      · Gateway lantai 3 : 192.168.3.1/24 jaringan LAN
      · Gateway lantai 4 : 192.168.4.1/24 jaringan Wifi
3. Setting Koneksi Internet menggunakan PPP Client sehingga mikrotik sudah bisa terkoneksi denganInternet
4. Buat Network Address Translation (NAT)
5. Uji Cobang Ping ke luar jaringan di Mesin Mikrotik
6. Setting Bandwidth Management untuk seluruh client dengan metode Simple Queue dan Queue

Tree dimana Rule nya :
       · Lantai 1 dapat jatah Bandwidth 2 mb/s dengan jumlah user 10 (Static IP)
       · Lantai 2 dapat Jatah Bandwidth 3 mb/s dengan jumlah user 15 (DHCP Server)
       · Lantai 3 dapat jatah bandwidth 2 mb/s dengan jumlah user 15 (DHCP Server)
       · dan lantai 4 dapat jatah bandwidth 2 mb/ dengan jumlah user 10 (DHCP Server)
       · untuk lantai 1 sampai 3 gunakan Metode Queue Simple dengan parent.
       · untuk lantai 4 gunakan Queue Tree dengan metode PCQ
7. Uji Coba Hasil Settingan Menggunakan Speed Test dan Download Manager untuk mengetahui
Bandwidth yang diterima oleh masing-masing user



MIKROTIK OS







NAMA :
Faisal Ali Fanani          1434010132
M Riza Pahlawan                  1434010178

LABORATORIUM JARINGAN KOMPUTER
PROGAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2016


Sunday, April 16, 2017

Drug Related Problem (DRP)

Care plan adalah keputusan dan tindakan profesi dalam merancang rencana pedoman mengatasi Drug Related Problem (DRP) agar tercapai goal of therapy disertai panduan tertulis penggunaan obat yang benar dan baik untuk penderita/keluarga, rencana monitoring penggunaan dan hasil-dampaknya serta rencana menyiapkan strategi evaluasi dan tindak lanjut bila muncul DRP.

DRP
Rencana Monitoring
Aktualisasi
Kepatuhan
penggunaan
obat
Memastikan pasien meminum obatnya secara teratur setiap hari.
Menginformasikan pada pasien bahwa minum obat secara teratur sangat penting dalam menjaga kadar gula darah untuk keberhasilan terapi yang sedang dijalankan.
Cara pemakaian yang tidak tepat
Pemberian informasi tentang cara pemakaian setiap obat
Pemberian etiket dengan keterengan yang lengkap disertai cara pemakaian obat yang tepat
Pasien tidak minum obat dengan benar (lupa atau terlalu berlebihan)
Memastikan obat habis tepat waktu dengan jumlah yang tepat
Melakukan monitoring melalui telepon.
Memberi pengertian pentingnya minum obatn dan akibatnya bila tidak patuh minum obat
Efek samping obat
Pemberian informasi tentang efek samping obat yang paling sering terjadi dari obat yang diterima
Member informasi akan muncul efek samping seperti captopril efek sampingnya batuk kering, bila efek saming yang muncul berkelanjutan, segera hubungi dokter

Pola makan yang tidak benar, tidak mendukung terapi yang diterima
Memastikan pasien menghindari makanan-makanan yang dapat memicu kenaikan tekanan darah sehingga dapat dicapai efek terapi yang optimal
Memberi catatan tentang pola makan yang benar yaitu menghindari konsumsi makanan/minuman yang memicu kenaikan darah tinggi seperti makanan tinggi garam dan kolesterol.

Pemberian informasi dan edukasi terkait terapi yang sedang dijalani pasien sangat penting demi tercapainya tujuan terapi. Edukasi sebaiknya disampaikan langsung kepada pasien karena yang paling mengerti kondisi pasien adalah pasien itu sendiri. Informasi dan edukasi yang disampaikan meliputi:
1.             Penjelasan tentang terapi yang diterima pasien yaitu jenis obat yang diterima, fungsi masing-masing obat, aturan pakai obat, efek samping obat yang mungkin dapat terjadi dan cara pengatasannya serta penyimpanan obat.
2.             Terapi non farmakologi untuk mendukung terapi obatnya, yaitu memodifikasi gaya hidup misalnya seperti melakukan olah raga secara teratur, menurunkan berat badan bila kelebihan berat badan, melakukan diet makanan rendah kolesterol dan rendah garam, serta menghindari stress agar penyakitnya tidak semakin parah.